TAROMBO RAJA SIGALINGGING

Adat Batak432 Views
banner 468x60


DAN TURI – TURIAN GELAR NI OMPU NA TOLU SA AMA

On ma tarombo dohot partording ni Raja Sigalingging sian si Raja Batak.

banner 336x280

Raja Batak mempunyai 2 orang anak yait siangkangan Raja Lontung dan sipaedua Raja Sumba
Raja Sumba mempunyai 3 orang anak yaitu: Tuan Sori Mangaraja, Raja Asi-Asi Tunggul Ni Aji
‘Sangkar So Malidang.

Anak Tuan Sori Mangaraja 3 orang yaitu:
Tuan Sorba Dijulu (Naiambaton), Tuan Sorba Dijae (Nairasaon), Tuan Sorba Dibanua
(Naisuanon)

Anak Raja Naiambaton ada 2 yaitu:

Raja Sitempang (Raja Natanggang), dan Raja Nabolon. Raja Sitempang ada 2 anak
nya yaitu: Raja Sitanggang (Raja Pangururan), dan Raja Sigalingging (Raja Pangulu
Oloan)

Kampung atau Bona Pasogit Raja Sigalingging yaitu di Huta Sigalingging Sait Ni Huta Pangururan

Kabupaten Toba Samosir di Pulau Samosir. Berjarak kurang lebih 3 kilometer sebelah Utara

Pangururan di Pulau Samosir. Di Huta Sigalingging Sait Ni Huta inilah terletak Tugu Marga

Sigalingging

Anak Raja Sigalingging ada 3 orang yaitu Sigorak, Sitambolang dan Parhaliang, Sigoral, Sitambolang
dan Parhaliang adalah gelar, sedangkan nama sesungguhnya adalah Guru Mangarissan untuk Sigorak,
Raja Tinatea untuk Sitambolang dan Namora Pangujian untuk Parhaliang,

Gelar Sigorak dan Sitambolang mempunyai latar belakang Khusus seperti yang akan dipaparkan
berikut ini. Hikayat atau cerita dari gelar tersebut merupakan sejarah dan hikayat yang dituturkan
oleh tetua-tetua marga Sigalingging yang dapat dihimpun, diramu dan diedit oleh penulis.

Putra Raja Sigalingging yang Sulung yaitu Guru Mangarissan mengerjakan dan mengusahakan
semua hauma/perladangan atau sawah yang berada di sekitar Huta Sigalingging. Guru Mangarissan
adalah petani ulung dan pekerja keras mangula hauma. Sedangkan adiknya Raja Tinatea adalah
“par Tao yaitu nelayan atau pardoton si dua tali di Danau Toba. Ikan atau dengke hasil tangkapan
Raja Tinatea dijual ke Onan Pangururan.

Pada zaman dahulu ikan tangkapan umumnya dapat ditukar dengan beras.
Misalnya 1 ekor “ihan atau ikan mas” dapat ditukar (barter) dengan 3 takkar boras.
Atau satangkar “pora-pora, issor, ikkan tori, manang dengke na asing* dapat ditukar dengan
satangkar boras.

Pertukaran atau barter tersebut tergantung kesepakatan, Beras yang akan ditukar
oleh pembeli dengan ikan terdiri dari bermacam-macam, ada beras merah (siattan rara) dan ada
beras putih biasa.

Raja Tinatea tidak dapat menolak jenis beras yang akan ditukarkan dengan ikan
‘yang dijualnya. Raja Tinatea memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya berdasarkan nafkah nelayan
dengan mardoton. Sedangkan Guru Mangarissan dari hasil pertaniannya.

Pada suatu ketika Raja Sigalingging terbaring dalam keadaan sakit, Guru Mangarissan memberitahu
adiknya Raja Tinatea agar bersama-sama mangalehon “Sipanganon® kepada ayah mereka Raja
Sigalingging.

Guru Mangarissan sebagai putra Sulung sangat hormat kepada orang tuanya, Oleh karena itu beras yang akan ditanak untuk dihidangkan kepada Raja Sigalingging harus dipilih tidak
boleh ada beras yang patah atau pecah, harus beras utuh. Demikian hormatnya Guru Mangarissan
kepada ayah mereka. Nasi yang dihasilkan merupakan “Indahan Na Bottar” dari beras yang utuh.

Raja Tinatea juga membawa “Indahan hasil dari keringatnya mardoton dan nasi yang dibawanya
tidak saksak bottar, tetapi beras campuran (campuran beras merah dengan beras biasa) atau
marbolang-bolang. Tetapi itulah hasil usaha dan jerih payahnya, Karena Raja Tinatea tidak
menggarap sawah untuk ditanami padi. Itu yang dia miliki itulah yang dipersembahkannya kepada
orang tua-nya.

Pada saat dihidangkan alangkah kaget dan terkejutnya Guru Mangarissan melihat * indahan * yang
dihidangkan oleh Raja Tinatea “indahan marbolang bolang”. Secara spontan Guru Mangarissan
membentak adiknya dan berkata. Inilah saatnya adat yang penting untuk memberi orang tua kita
‘marsipanganon, tetapi kau hidangkan “indahan na marbolang-bolang” sungguh kau adalah anak
yang tidak berbakti kepada orang tua. Sembari berkata demilian Guru Mangarissan menendang
indahan Raja Tinatea.

Raja Tinatea tidak dapat berbuat apa-apa. Dia berkata kepada abangnya:
“dia ma dohononku dahahang, ai ido pancarian dohot pancamotanku, dengke na dapot doton sian
tao i do huboan tu onan pasar, jala ditukkar ma i dohot boras nabinoan ni angka panuhor i. Ai so
adong hauma hu ula jadi beha bahenonku dahahang na laho patupahon indahan songon na pinatupa
mi, ai hasil ni hauma na niula mi do dipatupa ho na laho panganon ni natus-tuan ta. do na tarbahen
ahu tu jolo ni damang ba i ma hupasahat na laho panganon ni damang. Beha bahenon dang tarpatupa
au songon na pinarade ni dahahang i”.

Melihat kejadian itu Raja Sigalingging menatap kedua anaknya dan berkata: Ai hope nian
Mangarissan dohot do “marbolang” indahan ni anggi mi pola “digorakkon’ ho. Bai do na sinari na,
ba ima antong dipatupa na laho panganon ku.

Masyarakat di kampung dan sekitarnya mengetahui “kejadian® tersebut. Tersiar berita bahwa Guru
Mangarissan “manggorakkon® indahan adiknya karena “marbolang* pada saat mangalehon
sipanganon tu na tuatua na dengan menendang indahan yang dihidangkan oleh adiknya.
Masyarakat sekitar merasa tindakan Guru Mangarissan itu tidak pantas. Mereka mencibir Guru Mangarissan
dengan berucap: “apala holan alani marbolang do indahan ni anggi na, laos digorakkon jala disipak
Guru Mangarissan do sipanganon ni anggi na i”

Akibat dari perbuatan tersebut, masyarakat di huta Sigalingging Sait Ni Huta sampai ke Pangururan
Kurang familier dan kurang hormat kepada Guru Mangarissan. Sebaliknya Raja Tinatea banyak
‘menerima poda-poda supaya sabar terhadap perbuatan abangnya Guru Mangarissan.

Karena Guru Mangarissan merasa dijauhi dan dimusuhi oleh masyarakat selitar dia merasa tertekan
dan semakin lama merasa asing di tengah-tengah masyarakat Huta Sigalingging Sait Ni Huta dan
Panguruan. Dengan segala kepahitan dan kegalauan ditinggalkannyalah tanah kelahirannya . Guru
Mangarissan pergi merantau jauh, dan jauh agar dia tidak mendengar ocehan tentang dirinya dan
dia tidak ingin bertemu muka dengan orang-orang sekampungnya.

Kisah itu berlangsung alamiah, maka di kemudian hari Raja Tinatea diberi gelar Si Tambolang,
Karena indahan yang dihidangkannya kepada orang tuanya “Marbolang dan kepada Guru
Mangarissan diberi gelar “Sigorak karena “manggorakkon” (sangat memperhatikan) indahan na
sahat ni anggi na tu natua-tua ni nasida.

 

Dari kisah tersebut menurut penulis ketiga leluhur kita itu “benar dari tugas dan fungsi masing
masing berdasarkan struktur habatahon.

‘Guru Mangarissan sangat memperhatikan dan “terlalu peduli* atas hidangan adiknya Raja Tinatea
Karena dia lah anak sulung atau siangkangan, wajib menegor yang kurang pantas di hadapan orang
tua. Raja Tinatea juga benar Karena itulah mata pencahariannya, itu yang dia miliki, maka itulah
‘yang dipersembahkannya kepada orang tuanya. Raja Sigalingging menegor dan menasihati Guru
Mangarissan, apa salahnya indahan Raja Tinatea berbelang, karena itulah hasil jerih payahnya dan
itulah mata pencariannya. Mengapa Guru Mangarissan “Sangat Usil* dan menghukum adiknya
sedemilan kasar. Raja Sigalingging tidak pernah “martona kepada kedua anaknya. Hanya Guru
Mangarissan yang di kemudian hari merantau ke negeri orang Karena merasa tersisih dari masyarakat
sekitar.

Penulis hanya ingin untuk memperbaiki wacana dan memberi kesejukan bagi pomparan ni Raja
Sigalingging tentang kejadian masa lalu, seolah-olah ada: Sigalingging par Indahan Si Bottar (Sigorak)
dan ada Sigalingging par Indahan si Rara (Si Tambolang).

Dengan kisah tersebut di atas Penulis ‘merasa dan yakin bahwa “konflik* antara Sigorak dengan Sitambolang
yang berkakak adil tidak sedramatis yang didongengkan orang selama ini yaitu bahwa Timus ni api ni Sigorak dang boi pajumpang
dohot timus ni api ni Sitambolang.

Menurut Penulis seperti yang telah dipaparkan di atas ketiga
Leluhur kita semuanya benar, berdasarkan norma habatahon. Guru Mangarissan sebagai siangkangan
berprinsip “harus pasangaphon na tua-tua”. Raja Tinatea mempersembahkan hasil jerih payahnya,
dia tidak mau “marsali boras* untuk dipersembahkan kehadapan orang tuanya.

Sedangkan Raja Sigalingging sebagai orang tua memperingatkan Guru Mangarissan dan tidak menyalahkan Raja
Tinatea. Cuma Guru Mangarissan hanya “emosi® sampai menendang sipanganon ni anggi na. Hanya
Kesalahan kecil itu saja. Di kemudian hari Guru Mangarissan sendiri yang mengasingkan dirinya
dengan merantau melanglang buana ke negeri orang.

Anak ni Raja Sigalingging nomer 3 atau Siampudan i ma Namora Pangujian dengan Gelar Parhaliang
Menurut hikayatnya Parhaliang lahir di Rianiate sebelah selatan Kota Pangururan.

Raja Sigalingging berkelana ke Rianiate. Pada saat itu putri Raja penguasa Rianiate dalam keadaan
sakit parah. Sudah banyak para “Datu” yang berupaya untuk menyembuhlan penyakit sang Putri.
Tak kunjung sembuh. Akhirnya seseorang menyampaikan pesan dan berita kepada Raja
Raniate, bahwa ada seorang “Datu dari Sait Ni Huta Pangururan yang saat itu berada di Rianiate.

Sang Raja memesan Raja Sigalingging untuk mengobati putrinya. Dengan rendah hati Raja
Sigalingging mengeluarkan ilmu “Pandampolon® dan mandampol putri raja dengan ramuan yang
telah ditabas. Seluruh badan putri raja harus dibalur (didampol) dengan obat dampol Raja
Sigalingging. Karena harus dibalur langsung atau didampol ke kulit putri raja, maka putri raja
tidak boleh mengenakan pakaian.

Setelah beberapa minggu putri raja menjadi sehat seperti sediakala, Banyak pariban yang meminang
putri raja, tetapi satu pun tidak berkenan di hati putri. Akhirnya sang Raja memanggil putrinya dan
menanyakan mengapa putri tidak menerima lamaran dan pinangan paribannya. Putri Raja menyahut:
Beha do bahenon ku manjalo pangidoan ni angka pariban ki, ai sude landong dohot gurat-gurat ni
dagingku nunga diboto Raja Sigalingging. Ai mansai mara do au uju didampol Raja Sigalingging, i
do umbahen ma malum sahit hi, Jadi dang tarbahen au gabe parsinonduk bolon ni paribanki manang
baoana asing.

Keadaan itu berlangsung lama, tetapi sang putri tidak kunjung mau menerima lamaran
pria lain, Akhirnya Raja Rianiate memanggil Raja Sigalingging dan memohon agar mau mempersunting putrinya

Raja Sigalingging menjawab: Sombang ku ma raja nami, ai nunga ama-
anak ku di Pangururan, jadi dang mungkin au gabe hela ni Raja i. Santabi ma disiala i: kata raja
Sigalingging. Namun putri nya berkeras tidak mau dipersunting lelaki lain.

Akhirnya Raja Sigalingging diminta untuk mengawini putri raja. Raja Sigalingging mau dengan
persyaratan dan “parpadanan bahwa na so tupa siparbinoto parsondukbolon jala tokka ma marbarita
Raja Rianiate dohot angka parangan na tu Sait ni Huta Pangururan. Alai molo adong pomparan
na ingkon do luluan jala jumpangan na angka hahana na di Sait Ni Huta Pangururan, molo dung
mate ibana. I ma tona jala padan na, asa olo ibana gabe helani Raja i.

Maka pada “Pesta Peletakan Batu Pertama Tugu Raja Sigalingging” di Huta Sigalingging Sait Ni
Huta Pangururan, pada saat akan “Mamalu Gondang Sabangunan pomparan ni Namora Pangujian,
Parhaliang memaparkan kisah Raja Sigalingging di Rianiate, dan mereka menyatakan bahwa
merekalah “anak ketiga® dari Raja Sigalingging sesuai dengan “Tona Raja Sigalingging zaman
dahulu, yang mengatakan bahwa mereka harus mencari kedua abangnya di Pangururan.

Pada malam itu juga kita menerima pomparan ni Namora Pangujian si Parhaliang sebagai putra ke
3 dari Raja Sigalingging. Hal itulah yang diekspresikan pada tugu Raja Sigalingging tangga na tolu
yang menopang pilar tugu Raja Sigalingging ada sebanyak 3, yang menyatakan jumlah pomparan ni
Raja Sigalingging ada 3 orang yaitu: SIGORAK, SITAMBOLANG DAN SIPARHALIANG.

Kisah yang dipaparkan oleh penulis ini adalah cerita tetua-tetua marga Sigalingging. Penulis tidak
‘mengklaim bahwa inilah sejarah Sigalingging yang paling benar. Mungkin haha anggi dari daerah
lain mempunyai cerita atau kisah yang berbeda dengan naskah ini. Tentunya boleh saja. Setiap
orang, apalagi pomparan ni Raja Sigalingging berhak atas kisah Raja Sigalingging.

Demikian kisah yang dapat dihimpun oleh penulis selama ini. Semoga bermanfaat.

Kisah tersebut diperoleh dari perjalanan hidup

Penulis Naskah,

Ji Mirwan Sigalingging)
A. LEONARDO «+

 

Sumber Posting diambil dari Buku Tarombo Pomparan Raja Sigalingging

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *